• Gubernur Banten Bersama Pengurus LPTQ

    Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Choshiyyah berpose bersama Pengurus LPTQ Banten

  • Pengurus LPTQ Tangsel

    Sejumlah Pengurus LPTQ Tangsel mendengarkan petunjuk teknis dan pelaksanaan MTQ 2013

  • Sumpah Jabatan Pengurus LPTQ Pandeglang

    Sejumlah Pengurus LPTQ Pandeglang Tampak Mengikuti Jalannya Sumpah Jabatan

EDITORIAL

MTQ DAN KEMAJEMUKAN BANGSA

Nûn wa al-Qalam wa mâ Yasthurûn! Makna filosofis dalam penggalan ayat tersebut membimbing kita, umat Islam, membangun budaya positif untuk senantiasa kreatif dan inovatif mendokumentasikan semarak li i’ilâ kalimatillâh. Sekaligus menciptakan spirit memotret serta mengabadikannya dalam media dakwah syiar Alquran.  Alhamdulillah, atas karunia yang dianugerahkan Allah Swt. mengiringi tim redaksi merampungkan Jurnal “TILAWAH” Edisi tahun 2013.

Read more...
MERINDUKAN MTQ AKAR RUMPUT

Kita tentu masih ingat dengan hiruk-pikuk MTQ pada dekade tahun 1970-an atau 1980-an yang demikian riuh rendah. Ya, kemeriahan itu begitu merasuki sisi-sisi kesibukan masyarakat, tidak hanya perdesaan, tapi juga di wilayah-wilayah urban sekalipun. Syiar itu tidak hanya terasa pada level nasional, tapi juga hingga level akar rumput (grass root). MTQ kala itu digambarkan menjadi alternatif hiburan rakyat yang paling meriah, tidak kalah meriah dengan hiburan layar tancap, wayang golek, misbar (gerimis bubar), ubrug, atau jenis-jenis hiburan publik yang ada pada waktu itu. Secara sosiologis, kemeriahan itu dapat saja kita analisis sebagai konsekuensi atas minimnya pilihan-pilihan hiburan publik yang tersedia saat itu.

 

Tidak seperti sekarang, di mana alternatif hiburan sedemikian berlimpah-ruah di aras publik, bahkan saking banyaknya, sampai-sampai masyarakat dibuat bingung memilih hiburan yang tersedia. Nah, ketika pilihan-pilihan hiburan itu kian banyak, hal mana publik bebas menentukan pilihan hiburan, maka pertanyaannya adalah, apakah saat ini MTQ menjadi salah satu alternatif pilihan publik? Jawabannya, bisa ya, bisa tidak! Dikatakan ya, karena masih ada masyarakat yang bersedia menyempatkan hadir, meski sedikit, itupun harus dimobilisasi panitia. Dikatakan tidak, karena terjadi proses degradasi peminatan dan tingkat partisipasi masyarakat yang cukup mengkhawatirkan pada kegiatan MTQ di setiap levelnya, terlebih di wilayah-wilayah urban atau perkotaan.

MTQ di wilayah perkotaan tak ubahnya MTQ yang diselenggarakan negara-negara jiran, seperti MTQ Internasional di Kualalumpur, Malaysia, Philipina, Saudi Arabia, atau Iran, dan negera-negara penyelenggara MTQ Internasional lainnya di mancanegara. Pada momen-momen MTQ tersebut, tingkat keterlibatan atau partisipasi masyarakat demikian rendah, sehingga MTQ dilaksanakan cukup di ruangan tertutup dan disaksikan oleh publik dalam jumlah yang sangat terbatas. Tentu saja, model pelaksanaan MTQ seperti ini terasa kering dan nuansa formalitasnya terlampau dominan. 

Revitalisasi MTQ

Faktanya, saat ini MTQ memang sulit bersaing mendapatkan tempat di hati masyarakat. Diakui atau tidak, minat masyarakat menyaksikan MTQ menurun drastis. Apa boleh buat, tapi inilah fakta. MTQ dihadapkan pada tantangan modernitas yang kencang berhembus dan terkadang menghantam dengan keras. Pada titik ini pelaku dan penanggung jawab MTQ harus berfikir ulang untuk bagaimana mengembalikan MTQ pada jalurnya dan menjadikan MTQ sebagai kegiatan yang menarik perhatian publik di tengah aneka alternatif pilihan hiburan yang mengharu biru.

Sejauh ini telah banyak gagasan dan upaya yang dilakukan. Ada yang berpikir bahwa di tengah budaya pop yang menggejala di tengah-tengah masyarakat, MTQ perlu didesain, dipoles, dan dielaborasi semenarik mungkin dan se-pop mungkin untuk menyesuaikan dengan kecenderungan masyarakat era ini. Meski pada pelaksanaannya menuai pro-kontra, tapi gagasan ini sudah mulai terlihat di pelbagai kesempatan MTQ, mulai tingkat Kabupaten hingga Nasional. Untuk maksud ini, pada saat pembukaan atau penutupan MTQ, panitia menyuguhkan aneka atraksi kebudayaan, hiburan artis papan atas, pasar rakyat, door prize, hingga pesta kembang api.

Pada satu sisi, strategi ini cukup berhasil. Coba perhatikan, betapa berlimpahnya pengunjung yang menghadiri acara pembukaan dan penutupan MTQ yang digelar penuh kemeriahan hiburan yang bersifat pop tadi. Ya, panitia berhasil menghadirkan massa dalam jumlah besar sehingga pelaksanaan pembukaan dan penutupan MTQ berjalan meriah. Tapi pernahkan kita mencoba melakukan survai kecil-kecilan tentang motivasi apa yang membuat mereka berduyun-duyun hadir dan rela berdesak-desakan di tengah kerumunan orang? Benarkah kehadiran mereka karena ingin menyaksikan lantunan ayat suci Alquran mengumandang di arena MTQ? Atau karena ingin menyaksikan artis pujaannya? Atau ingin sekadar melihat dari dekat gebyar kembang api yang kerap mereka saksikan di layar televisi? Lantas bagaimana situasi di setiap majelis hakim MTQ di mana para peserta menunjukkan kebolehannya masing-masing, apakah situasinya seramai dan semeriah ketika pembukaan dan penutupan MTQ?

Apapun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita tentu patut bersyukur bahwa ada upaya kreatif dari penyelenggara MTQ untuk tetap meningkatkan keterlibatan dan peran serta masyarakat dalam setiap kegiatan MTQ. Inilah salah satu tantangan yang dihadapi para pelaku dan penanggung jawab MTQ saat ini. LPTQ selaku pihak penyelenggara MTQ dituntut untuk terus berinovasi dan melakukan terobosan-terobosan baru dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat di dalamnya.

Lantas, seberapa penting keikutsertaan masyarakat dalam MTQ? Bukankah tak mengapa jikapun tak ada yang menonton? Jawabannya tentu sangat penting dan harus melibatkan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. K.H. A. M. Romli, M.Hum, Ketua Umum MUI Banten yang juga Pengurus LPTQ tingkat Nasional. Menurut Romli, LPTQ dan MTQ laksana dua sisi mata uang: menyatu dan tak dapat dipisahkan. “Kehadiran LPTQ diharapkan dapat memicu peningkatan minat dan kemampuaan masyarakat dalam mempelajari Alquran. Sedangkan MTQ dijadikan sarana evaluasi untuk mengukur seberapa jauh keberhasilan LPTQ dalam menjalankan fungsi pembinaannya,” ujar Romli. Bagi Romli, pembinaan dan evaluasi menjadi dua kata kunci yang harus benar-benar dipegang teguh oleh LPTQ. Artinya, LPTQ harus benar-benar menjalankan tugasnya di bidang pembinaan Alquran bagi masyarakat. “Nah, hasil binaannya itulah yang kemudian dievaluasi lewat pelaksanaan MTQ. Jadi, kalau LPTQ tak pernah membina, lalu siapa yang dievaluasi?,” tanyanya diplomatis.

Apa yang disampaikan kyai Romli adalah sebentuk autokritik. Selama ini dalam persepsi publik, LPTQ kerap disamakan dengan MTQ. Padahal keduanya bukan sinonim, tapi lebih sebagai hubungan sebab akibat atau bahkan pranata yang berbeda. Pemahaman ini sesungguhnya menjebak, yang pada akhirnya LPTQ harus berpuas diri setelah sukses menyelenggarakan MTQ, tapi abai dengan tugas pokoknya, yakni pembinaan. “Ketika LPTQ lalai melakukan pembinaan kepada masyarakat, maka jangan kaget kalau terjadi fenomena peserta cabutan atau peserta dapat ngebon,” demikian ia mengingatkan. Romli menegaskan pentingnya LPTQ membuat program pembinaan yang berkelanjutan bagi masyarakat.               

Jadi dengan demikian jelas, obyek utamanya adalah masyarakat. Melalui MTQ, masyarakat perlu diberitahu eksistensi LPTQ dan MTQ. LPTQ bersedia memberikan pembinaan bagi masyarakat. LPTQ juga bertugas menyadarkan masyarakat tentang pentingnya mempelajari Alquran. MTQ, dengan demikian, tidak lebih sebagai cara atau strategi memantik minat dan semangat masyarakat untuk gemar dan gandrung dengan Alquran.       

MTQ Akar Rumput

Agar program LPTQ dapat tersosialisasi dengan baik di tengah-tengah masyarakat, ada baiknya otoritas LPTQ kembali menimbang keberlanjutan MTQ akar rumput. Maksudnya, MTQ harus dilaksanakan secara berjenjang, mulai tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Model ini sejatinya sejalan dengan semangat awal pendirian LPTQ, yakni LPTQ sebagai lembaga pembinaan.

“Idealnya memang begitu. LPTQ pada setiap jenjangnya mengadakan evaluasi pembinaan melalui MTQ yang rutin diselenggarakan. Jadi akan ketahuan seberapa besar keberhasilan program pembinaan yang telah dijalankan LPTQ,” kata Romli yang juga Pengurus LPTQ Tingkat Nasional. Lagi pula, sambung Romli, peluang untuk mendatangkan peserta “cabutan” dari luar akan semakin sulit, karena terbentur dengan komitmen masyarakat di tingkat bawah.

Sejauh pengamatan Tilawah, beberapa daerah di Banten sudah mulai menyadari akan pentingnya pembinaan di arus bawah. Beberapa waktu yang lalu, seluruh kecamatan di wilayah Kota Tangerang Selatan, disibukkan dengan hiruk-pikuk persiapan pelaksanaan MTQ atau STQ tingkat kecamatan. Berdasarkan edaran Walikota Tangerang Selatan, Camat atau dalam hal ini LPTQ tingkat kecamatan diminta untuk melaksanakan MTQ/STQ di tingkat kecamatan, yang hasilnya akan diikutsertakan dalam MTQ Tingkat Kota Tangerang Selatan.  

Sontak saja, kebijakan ini telah membuat kalangkabut lurah dan kapala desa di Tangerang Selatan. Mereka dipaksa door to door untuk mencari-cari peserta di desa atau kelurahannya yang mau dan dianggap memiliki kemampuan untuk berkompetisi di tingkat kecamatan. Situasinya sudah pasti dapat diduga. Sebagian besar kelurahan/desa pun hanya mampu menghadirkan beberapa peserta saja. Itu pun dengan susah payah. Mereka tak sanggup melengkapi seluruh cabang yang diperlombakan. “Mana mungkin mendapatkan peserta tafsir bahasa Inggris atau bahasa Arab di sini,” keluh salah seorang Lurah di bilangan Pamulang.

“Ini fakta bahwa pembinaan di akar rumput belum tersentuh”, pungkas Dr. H. Dimyati Sajari, M.Ag, Ketua Harian LPTQ Kota Tangerang Selatan. Dia berjanji akan terus melakukan penguatan-penguatan kelembagaan di tingkat kecamatan dan kelurahan. “Ini tentu harus didukung oleh political will Pemerintah Daerah. Sejauh ini Ibu Walikota dan Jajaran Muspida serta DPRD antusias mendukung program pembinaan Alquran di Tangsel,” ungkap doktor bidang tasawuf ini bangga.

Selain Kota Tangerang Selatan, LPTQ Kabupaten Tangerang juga sebelumnya telah melakukan hal yang sama, dan tentu saja Kabupaten/Kota lain di wilayah Banten. Walhasil, komitmen pembinaan, dengan demikian, harus kita buat menggurita dan didengungkan ke segenap penjuru Banten agar keberadaan LPTQ benar-benar fungsional dan berdampak positif bagi peningkatan minat dan gairah mengaji dan mengkaji kandungan Alquran di tengah-tengah masyarakat Banten yang religius. Jangan lupa, ada tugas berat dipundak kita yang kerap terlupakan, yakni mempertahankan predikat historis bahwa “Banten dianggap sebagai lumbung penghasil qari dan hafizh di tanah air”. Akankah predikat itu terhenti pada slogan dan jargon romantisme masa lalu? Semoga tidak! [Abie]

 

KHAZANAH

  • MENGENAL QIRAAT SAB'AH

    Wajib bagi setiap muslim untuk menerimanya, baik timbulnya dari salah satu dari imam yang tujuh, maupun dari yang sepuluh atau lainnya yang bisa diterima sanad dan riwayatnya. Apa jadinya jika Anda membaca kata laamastum (dengan memanjangkan bacaan lam sebanyak satu-dua harakat) dengan membaca lamastum (tanpa memanjangkan lam)? Sepintas hal itu dianggap biasa saja, sebagai kesalahan secara...

TELAAH

  • AlQuran Kitab Berani

    Keberanian yang paling mencolok dari Alquran ialah mendeklarasikan dirinya sebagai kitab yang tidak bertentangan satu sama lain (Q.s. 4: 82). Bahkan, Alquran menantang siapa saja yang mampu untuk membuat (menyusun) Alquran baru baik dalam jumlah ayat minimal maupun maksimal (Q.s.10: 38). Dalam kitab-kitab klasik seperti ditulis antara lain oleh al-Jahizh (W. 225 H/869 M)dalam bukunya Hujjah...

Berita Utama

  • MERINDUKAN MTQ AKAR RUMPUT
    Write on Saturday, 04 May 2013 10:14 Kita tentu masih ingat dengan hiruk-pikuk MTQ pada dekade tahun 1970-an atau 1980-an yang demikian riuh rendah. Ya, kemeriahan itu begitu merasuki sisi-sisi kesibukan masyarakat, tidak hanya... Readmore
    SERTIFIKASI DEWAN HAKIM, PERLUKAH?
    Write on Saturday, 04 May 2013 10:33 Secara sosiologis, kemeriahan itu dapat saja kita analisis sebagai konsekuensi atas minimnya pilihan-pilihan hiburan publik yang tersedia saat itu. Tidak seperti sekarang, di mana alternatif hiburan... Readmore
  • UTAMAKAN PESERTA PUTRA DAERAH
    Write on Thursday, 16 May 2013 10:30 Dalam rangka menindaklanjuti  surat  edaran  ketua  Lembaga  Pengembangan  Tilawatil Qur’an  (LPTQ) Kota Tangerang Selatan Nomor: Perihal pelaksanaan MTQ di tingkat Kecamatan. Pada hari... Readmore
    162 PESERTA IKUTI MTQ KEC PAMULANG
    Write on Thursday, 16 May 2013 10:42 Sebanyak 162 orang mengikuti Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat  Kecamatan Pamulang di halaman Kantor  Kecamatan  Pamulang. Ke-126 peserta ini berasal dari 8 kelurahan yang ada di... Readmore
  • SINERGITAS PESANTREN DAN “HAJAT MTQ”
    Write on Thursday, 16 May 2013 10:48 Membicarakan Banten dari berbagai sisi dan temanya merupakan hal yang tak pernah habis dan selalu saja menarik perhatian publik, ibarat sebuah drama sinetron, yang di dalamnya terdapat dinamika yang... Readmore
Silakan Berlangganan Newsletter Kami dengan cara memasukkan email anda.